Linux Fun

๐Ÿ“š

Metode Klasifikasi Fuzzy RFM

Analisa RFM

Analisa RFM terdiri dari tiga dimensi, yaitu (Tsiptsis dan Chorianopoulos, 2009) :

  1. Recency, yaitu rentang waktu (dalam satuan hari, bulan, tahun) dari transaksi terakhir yang dilakukan oleh konsumen sampai saat ini.
  2. Frequency, yaitu jumlah total transaksi atau jumlah rata-rata transaksi dalam satu periode.
  3. Monetary, yaitu jumlah rata-rata nilai pembelian konsumen dalam suatu satuan waktu.

Sharp RFM

Metode sharp RFM mendeskripsikan atribut recency, frequency, dan monetary dengan variabel linguistik (Zumstein, 2007). Sebagai contoh, atribut recency dideskripsikan dengan bahasa naturalย  long ago (lama) dan very recent (baru saja). Atribut frequency dideskripsikan dengan bahasa natural rare (jarang)dan frequent (sering). Sedangkan atribut monetary dideskripsikan dengan bahasa natural low value (rendah)dan high value (tinggi). Konteks dari masing-masing atribut didefinisikan sebagai berikut :

  1. Domain atribut recency didefinisikan dalam rentang [0, 730] hari. Rentang nilai ini dibagi menjadi dua kelas yang ekuivalen, yaitu [0, 365] hari untuk variable linguistik very recent dan [366, 730] hari untuk long ago.
  2. Domain atribut frequency didefinisikan dalam rentang [0, 100]. Rentang nilai ini dibagi menjadi dua kelas yang ekuivalen, yaitu [0, 9] untuk variable linguistik rare dan [10, 100] untuk frequent.
  3. ย Domain atribut monetary didefinisikan dalam rentang [0, 200] euro. Rentang nilai ini dibagi menjadi dua kelas yang ekuivalen, yaitu [0, 99] euro untuk variable linguistik low value dan [100, 200] euro untuk high value.

Pada Tabel 1, delapan kelas (C1 sampai C8) didefinisikan menggunakan atribut RFM dan variabel linguisik. Untuk setiap kelas ditentukan nilai (score) yang bergantung dari besarnya nilai recency, frequency, dan monetary. Semakin tinggi nilai recency, frequency, dan monetary dari konsumen, semakin tinggi juga nilai (score) yang diperoleh.

Class

RFM attributes, (equivalence classes) and terms

Scores

Recency

Frequency

Monetary value

Days last purchases

Term

Number of purchases

Term

ร˜ turnover

Term

C1

[0, 365]

Very recent

[10, 100]

Frequent

[0, 99]

Low value

70 p

C2

[0,365]

Very recent

[0, 9]

Rare

[0, 99]

Low value

40 p

C3

[366, 730]

Long ago

[10, 100]

Frequent

[0, 99]

Low value

30 p

C4

[366, 730]

Long ago

[0, 9]

Rare

[0, 99]

Low value

0 p

C5

[0, 365]

Very recent

[10, 100]

Frequent

[100.200]

High value

100 p

C6

[0,365]

Very recent

[0, 9]

Rare

[100.200]

High value

60 p

C7

[366, 730]

Long ago

[10, 100]

Frequent

[100.200]

High value

50 p

C8

[366, 730]

Long ago

[0, 9]

Rare

[100.200]

High value

20 p

 

 

Pada Tabel 2 dibawah ini diberikan contoh nilai recency, frequency, dan monetary dari empat konsumen. Nilai yang diperoleh oleh masing-masing konsumen diberikan berdasarkan ketentuan pada Tabel 1 di atas.

Customer

Class

RFM attributes, (equivalence classes) and terms

Scores

Recency

Frequency

Monetary value

Days last purchases

Term

Number of purchases

Term

ร˜ turnover

Term

Smith

C3

378

Long ago

11

Frequent

92

Low value

30 p

Ford

C4

723

Long ago

7

Rare

12

Low value

0 p

Brown

C5

342

Very recent

13

Frequent

117

High value

100 p

Miller

C5

14

Very recent

38

Frequent

193

High value

100 p

Dari hasil Tabel 2 di atas terlihat bahwa meskipun Smith dan Brown memiliki nilai monetary yang tidak jauh berbeda, keduanya diklasifikasikan ke dalam kelas yang berbeda. Di lain pihak, Miller diklasifikasikan ke dalam kelas yang sama dengan Brown meskipun unjuk kerja Brown lebih baik daripada Miller. Kekurangan metode sharp RFM disempurnakan dalam fuzzy RFM menggunakan konsep himpunan fuzzy dan fungsi keanggotaan (Zumstein, 2007). Dengan klasifikasi menggunakan metode fuzzy RFM, nilai (score) dari masing-masing konsumen dapat diperhitungkan dengan lebih akurat dan lebih baik (Tabel 3).

Class

Corresponding membership functions

to each class

Mnorm (Oi | Ck)

Fuzzy Calculated RFM Score

Ford

Smith

Brown

Miller

Ford

Smith

Brown

Miller

C1

ฮผvery recent

ฮผfrequent

ฮผlow value

70

0

0

0.14902

0.12810

0

10.43

8.97

0

C2

ฮผvery recent

ฮผrare

ฮผlow value

40

0

0

0.13051

0.09641

0

5.22

3.86

0

C3

ฮผlong ago

ฮผfrequent

ฮผlow value

30

0.42857

0.42857

0.17340

0.11167

12.86

5.20

3.35

0

C4

ฮผlong ago

ฮผrare

ฮผlow value

0

0.57143

0.57143

0.15235

0.08296

0

0

0

0

C5

ฮผvery recent

ฮผfrequent

ฮผhigh value

100

0

0

0.09708

0.17521

0

9.71

17.52

100

C6

ฮผvery recent

ฮผrare

ฮผhigh value

60

0

0

0.8360

0.13427

0

5.02

8.06

0

C7

ฮผlong ago

ฮผfrequent

ฮผhigh value

50

0

0

0.11456

0.15395

0

5.73

7.70

0

C8

ฮผlong ago

ฮผrare

ฮผhigh value

20

0

0

0.09948

0.11732

0

1.99

2.35

0

Total

1

1

1

1

12.86

43.3

51.81

100

Dari hasil Tabel 3 di atas, terlihat bahwa penilaian menggunakan metode fuzzy RFM memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan metode sharp RFM. Dalam metode fuzzy RFM, indikator yang penting dalam menentukan klasifikasi adalah derajat keanggotaan dari kelas-kelas yang berbeda dan nilai total dari metode fuzzy RFM. Perbandingan antara metode sharp RFM dengan fuzzy RFM ditunjukkan melalui Gambar berikut ini

(a) Sharp RFM dan (b) Fuzzy RFM

๐Ÿ“š

Ukuran Validitas Cluster

Sejak konsep himpunan fuzzy diperkenalkan oleh Zadeh pada tahun 1965, konsep fuzzy clustering banyak dikembangkan dan diterapkan. Dalam konsep fuzzy clustering, suatu data dapat menjadi anggota dari beberapa cluster sekaligus menurut derajat keanggotaannya (Wu dan Yang, 2005). Proses clustering dalam algoritma fuzzy clustering selalu mencari solusi terbaik untuk parameter yang telah didefinisikan. Namun solusi terbaik ini belum tentu dapat menentukan deskripsi terbaik dari struktur data. Dalam hal ini jumlah cluster yang ditentukan atau bentuk cluster mungkin tidak sesuai dengan data. Untuk menentukan jumlah cluster yang paling optimal dan dapat memvalidasi apakah partisi fuzzy yang diterapkan dalam proses clustering sesuai dengan data, digunakan indeks pengukuran validitas cluster (Balasko, ____).

Berikut ini adalah beberapa metode pengukuran validitas cluster yang umumnya digunakan untuk algoritma fuzzy clustering(Wu dan Yang, 2005) :

Partition Coefficient

Partition Coefficient (PC)merupakan metode yang mengukur jumlah cluster yang mengalami overlap. Indeks PC mengukur validitas cluster dengan rumus sebagai berikut :

Dimana :
cย ย ย ย ย ย ย ย ย  = jumlah cluster
Nย ย ย ย ย ย ย ย  = jumlah data
ฮผijย ย ย ย ย ย ย  = derajat keanggotaan data ke-j pada cluster ke-i
PC(c)ย ย  = nilai indeks PC pada cluster ke-c

Nilai PC berada dalam batasย  .

Pada umumnya jumlah cluster yang paling optimal ditentukan dari nilai PC yang paling besar

Modified Partition Coefficient

Partition ย Coefficient cenderung mengalami perubahan yang monoton terhadap beragam nilai c (jumlah cluster). Modifikasi dari indeks PC (Modified Partition Coefficient/MPC) dapat mengurangi perubahan yang monoton tersebut. dan didefinisikan dengan rumus berikut:

Dimana :
cย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย  = jumlah cluster
MPC(c)ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย  = nilai indeks MPC pada cluster ke-c

Nilai MPC berada dalam batas 0 โ‰ค PC(c) โ‰ค 1. Pada umumnya jumlah cluster yang optimal ditentukan dari nilai MPC yang paling besar

Classification Entropy

Classification Entropy (CE)merupakan metode yang mengukur tingkat kekaburan (fuzzyness) dari partisi cluster. Indeks CE mengukur validitas cluster dengan rumus sebagai berikut :

Dimana :
cย ย ย ย ย ย ย ย ย  = jumlah cluster
Nย ย ย ย ย ย ย ย  = jumlah data
ฮผijย ย ย ย ย ย ย  = derajat keanggotaan data ke-j pada cluster ke-i
CE(c)ย ย  = nilai indeks CE pada cluster ke-c

Nilai CE berada dalam batas 0 โ‰ค CE(c) โ‰ค log2c. Pada umumnya jumlah cluster yang optimal ditentukan dari nilai PE yang paling kecil

๐Ÿ“š

Metode Fuzzy Subtractive Clustering

Fuzzy Subtractive Clustering

Dasar dari metode Fuzzy Subtractive Clustering adalah ukuran densitas (potensi) titik-titik data dalam suatu ruang (variabel). Konsep dasar dari metode Fuzzy Subtractive Clustering adalah menentukan daerah-daerah dalam suatu variabel yang memiliki densitas tinggi terhadap titik-titik di sekitarnya. Titik dengan jumlah tetangga terbanyak akan dipilih untuk menjadi pusat kelompok. Titik yang sudah dipilih menjadi pusat kelompok ini kemudian akan dikurangi densitasnya. Selanjutnya akan dipilih titik lain yang menjadi tetangga terbanyak untuk dijadikan pusat kelompok yang lain. Hal ini akan dilakukan berulang-ulang sampai semua titik teruji. Metode fuzzy subtractive clustering tergolong metode unsupervised clustering dimana jumlah pusat cluster tidak diketahui. Metode ini menggunakan data sebagai kandidat dari pusat cluster, sehingga beban komputasi tergantung dari jumlah data dan tidak bergantung dari dimensi data. Jumlah pusat cluster yang dicari ditentukan melalui proses iterasi untuk mencari titik-titik dengan jumlah tetangga terbanyak.

Menghitung Densitas Suatu Titik

Apabila terdapat n buah data yaitu x1, x2, …, xndan dengan menganggap bahwa data-data tersebut sudah dalam keadaan normal, maka densitas suatu titik dapat dihitung dengan persamaan (Gelley, 2000) :

Dimana
Dkย ย ย ย ย ย  = Densitas titik ke-k
xkย ย ย ย ย ย ย ย ย  = titik ke-k
raย ย ย ย ย ย ย  = konstanta positif.

Dengan demikian, suatu titik data akan memiliki densitas yang besar jika titik tersebut memiliki banyak tetangga. Setelah menghitung densitas tiap-tiap titik, maka titik dengan densitas tertinggi akan terpilih menjadi pusat kelompok. Misalkan xc1 adalah titik yang terpilih menjadi pusat kelompok dan Dc1 adalah ukuran densitasnya, selanjutnya densitas dari titik-titik di sekitarnya akan dikurangi dengan persamaan (Gelley, 2000) :

Dimana rb adalah konstanta positif. Hal ini berarti bahwa titik-titik yang berada dekat dengan pusat kelompok xc1 akan mengalami pengurangan densitas secara besar-besaran. Hal ini akan berakibat titik-titik tersebut memiliki kemungkinan yang kecil untuk menjadi pusat kelompok berikutnya. Nilai rb menunjukkan suatu lingkungan yang mengakibatkan titik-titik berkurang ukuran densitasnya. Nilai rb diperoleh dari persamaan :

Biasanya squashfactor bernilai 1,5. Dengan demikian rb bernilai lebih besar dibandingkan ra.

Setelah densitas tiap-tiap titik diperbaiki, selanjutnya akan dicari pusat kelompok yang kedua, yaitu xc2. Setelah xc2 diperoleh, ukuran densitas tiap titik data akan diperbaiki kembali. Langkah-langkah ini dilakukan berulang-ulang sampai semua titik teruji. Pada implementasinya, bisa digunakan 2 bilangan sebagai faktor pembanding, yaitu accept ratio dan reject ratio. Apabila hasil bagi antara potensi tertinggi suatu titik data dengan potensi tertinggi yang pertama kali diperoleh pada iterasi pertama lebih besar daripada accept ratio, maka titik data tersebut diterima sebagai pusat kelompok baru. Apabila hasil bagi antara potensi tertinggi suatu titik data dengan potensi tertinggi yang pertama kali diperoleh pada iterasi pertama lebih kecil daripada accept ratio namun lebih besar daripada reject ratio, maka titik data tersebut baru akan diterima sebagai pusat kelompok yang baru jika titik tersebut terletak pada jarak yang cukup jauh dengan pusat kelompok yang lainnya. Namun, jika hasil bagi antara potensi tertinggi suatu titik data dengan potensi tertinggi yang pertama kali diperoleh pada iterasi pertama lebih kecil daripada accept ratio maupun reject ratio, maka titik tersebut tidak akan diperhitungkan lagi untuk menjadi pusat kelompok yang baru.

๐Ÿ“š

Metode Fuzzy C-Means Clustering

Metode Fuzzy C-Means Clustering pertama kali dikenalkan oleh Jim Bezdek pada tahun 1981 (Jain dkk, 1999). Fuzzy C-Means adalah salah satu teknik pengelompokkan data yang mana keberadaan tiap titik data dalam suatu kelompok (cluster)ditentukan oleh derajat keanggotan. Metode Fuzzy C-Means termasuk metode supervised clustering dimana jumlah pusat cluster ditentukan di dalam proses clustering. Algoritma dari fuzzy c-means adalah sebagai berikut (Yan, 1994) :

Input Data

Input data yang akan dikelompokkan, yaituX, berupa matrix berukuran n x m (n=jumlah sampel data, m=atribut setiap data). Xij data sampel ke-i (i=1,2,โ€ฆn), atribut ke-j (j=1,2,..m).

Tentukan Jumlah Cluster

Tentukan jumlah cluster (c), pangkat untuk matriks partisi (w), maksimum iterasi (MaxIter), error terkecil yang diharapkan (ฮพ), fungsi objektif awal (Po=0), dan iterasi awal (t=1).

Bangkitkan Nilai Random

Bangkitkan bilangan random ฮทik, i=1,2,โ€ฆn; k=1,2,โ€ฆc sebagai elemen matrik partisi awal U.

Hitung Pusat Cluster ke-k

Hitung pusat cluster ke-k: , dengan k=1,2,โ€ฆ,c; dan j=1,2,โ€ฆ,m, menggunakan persamaan berikut ย (Yan, 1994) :dengan :

Vkj ย ย ย ย  = pusat cluster ke-k untuk atribut ke-j
ฮทikย ย ย ย ย ย = derajat keanggotaan untuk data sampel ke-i pada cluster ke-k
xijย ย ย ย  = data ke-i, atribut ke-j

Hitung Fungsi Objektif

Hitung fungsi objektif pada iterasi ke-t menggunakan persamaan berikut (Yan, 1994) ย :
dengan:
Vkj ย ย ย ย ย  = pusat cluster ke-k untuk atribut ke-j
ฮทikย ย ย ย ย ย  = derajat keanggotaan untuk data sampel ke-i pada cluster ke-k
xijย ย ย ย ย  = data ke-i, atribut ke-j
Ptย ย ย ย ย  = fungsi objektif pada iterasi ke-t

Hitung Perubahan Matriks

Hitung perubahan matriks partisi menggunakan persamaan berikut (Yan, 1994) ย :

Dengan I = 1,2,โ€ฆ,n; dan k=1,2,โ€ฆc.
Dimana :
Vkj ย ย ย ย  = pusat cluster ke-k untuk atribut ke-j
ฮทikย ย ย ย ย  = derajat keanggotaan untuk data sampel ke-i pada cluster ke-k
xijย ย ย ย  = data ke-i, atribut ke-j

Cek Kondisi berhenti

Jika :

ATAU

maka berhenti. Jika tidak: t=t+1, ulangi langkah ke-4.

๐Ÿ“š

Hard Clustering dan Fuzzy Clustering

Hard Clustering dan Fuzzy Clustering

Metode pengelompokan klasik (hard clustering) berdasarkan pada teori himpunan klasik, yang menentukan bahwa sebuah objek dapat menjadi anggota atau bukan anggota dari suatu cluster. Fuzzy clustering memperbolehkan suatu objek untuk menjadi anggota dari beberapa cluster sekaligus dengan derajat keanggotaan yang berbeda-beda. Derajat keanggotaan berada di antara rentang 0 dan 1. Jadi, dataset X dapat dipartisi menjadi c fuzzy subset. Di dalam situasi riil, fuzzy clustering memiliki hasil yang lebih natural dibandingkan dengan hard clustering.

Ilustrasi Hard Clustering VS Fuzzy Clustering

Ilustrasi perbedaan antara hard clustering dan fuzzy clustering ditunjukkan melalui gambar berikut ini.

๐Ÿ“š

Clustering

Clustering

Pengelompokan (clustering) merupakan teknik yang sudah cukup dikenal dan banyak digunakan untuk mengelompokkan data/objek ke dalam kelompok data (cluster) sehingga setiap cluster memiliki data yang mirip dan berbeda dengan data yang berada dalam cluster lain. Jika diberikan himpunan data yang berjumlah terhingga, yaitu X, maka permasalahan clustering dalam X adalah mencari beberapa pusat cluster yang dapat memberikan ciri kepada masing-masing cluster dalam X.

Contoh Proses Clustering

Gambar di bawah ini menunjukkan contoh sederhana dari proses clustering, dimana 3 cluster di dalam data dapat teridentifikasi dengan mudah.

Kriteria kemiripan yang digunakan dalam kasus ini adalah jarak (dalam kasus ini jarak geometris). Proses ini disebut distance-based clustering. Cara lain untuk melakukan clustering adalah conceptual clustering. Dalam conceptual clustering, objek dikelompokkan berdasarkan kecocokannya menurut konsep deskriptif.

๐Ÿ“š

Himpunan Fuzzy

Teori Himpunan Fuzzy

Teori himpunan fuzzy merupakan titik penting perkembangan konsep ketidakpastian. Teori himpunan fuzzy diperkenalkan oleh Lotfi A. Zadeh pada tahun 1965 (Klir dan Yuan, 1995). Dengan diperkenalkannya teori himpunan fuzzy, maka anggapan bahwa teori probabilitas sebagai satu-satunya alat untuk memecahkan masalah yang mengandung unsur ketidakpastian, mengalami perkembangan. Teori himpunan fuzzy merupakan salah satu alat untuk memecahkan masalah ketidakpastian. Himpunan nonfuzzy (crisp set) A didefinisikan oleh anggota-anggota himpunan tersebut. Jika a รŽ A, maka nilai yang berhubungan dengan a adalah 1. Namun, jika a ร A, maka nilai yang berhubungan dengan a adalah 0. Notasi A = {x | P(x)} menunjukkan bahwa anggota A adalah x dengan P(x) benar. Jika XA merupakan fungsi karakteristik dari A, maka dapat dikatakan bahwa P(x) benar, jika dan hanya jika XA(x) = 1. Himpunan fuzzy didasarkan pada gagasan untuk memperluas jangkauan karakteristik sedemikian hingga fungsi tersebut akan mencakup bilangan riil pada interval [0,1].

Himpunan Fuzzy

Himpunan fuzzy merupakan himpunan dengan batas-batas keanggotaan yang tidak dapat ditentukan dengan dipenuhi atau tidak dipenuhinya suatu syarat keanggotaan. Keanggotaan himpunan fuzzy ditentukan oleh derajat keanggotaan yang menentukan tingkat kesesuaian setiap anggota dengan fungsi keanggotaan yang telah ditentukan dalam himpunan fuzzy. Misalkan A adalah himpunan fuzzy dan x adalah objek tertentu. Dalil โ€œx adalah anggota Aโ€ tidak dapat dikatakan bernilai benar atau salah, seperti yang dinyatakan dalam logika dua nilai. Dalil ini dapat dikatakan bernilai benar hanya untuk derajat tertentu, yaitu derajat dimana x betul-betul anggota A. Pada umumnya, nilai kebenaran suatu dalil dinyatakan dengan bilangan riil dalam interval [0,1]. Nilai ini juga mewakili derajat keanggotaan dalam himpunan fuzzy. Notasi fungsi keanggotaan dari himpunan fuzzy A yang dilambangkan dengan ฮผA ,ย  adalah sebagai berikut :

Dalam hal ini, setiap fungsi keanggotaan memetakan elemen-elemen himpunan semesta Xย  ke bilangan riil dalam interval [0,1] .

๐Ÿ“š

Data Mining dalam Kerangka Kerja CRM

Dimensi CRM

Menurutย  Swift (2001), Parvatiyar dan Sheth (2001), serta Kracklauer, Mills, dan Seifert (2004), CRM memiliki empat dimensi, yaitu :

  1. Identifikasi konsumen (customer identification).
  2. Membangun daya tarik terhadap konsumen (customer attraction).
  3. Mempertahankan konsumen yang ada (customer retention).
  4. Pengembangkan konsumen (customer development).

Keempat dimensi dari CRM tersebut dapat dilihat sebagai siklus tertutup dalam Customer Management System. Setiap dimensi memiliki tujuan umum yang sama yaitu untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam dari konsumen dan meningkatkan nilai konsumen (customer value) dari perusahaan. Dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan tersebut, ย teknik data mining dapat digunakan untuk menemukan karakteristik dan perilaku konsumen yang tersembunyi dalam database yang berukuran besar.

Metode Pemodelan Data

Untuk menemukan pola karakteristik dan perilaku konsumen, dapat digunakan metode pemodelan data dalam teknik data mining. Beberapa metode pemodelan data yang dapat digunakan, yaitu :

  1. Association
  2. Classification
  3. Clustering
  4. Forecasting
  5. Regression
  6. Sequence discovery
  7. Visualization

Kerangka kerja teknik data mining dalam keempat dimensi CRM dijelaskan melalui gambar berikut ini.

๐Ÿ“š

Teknologi CRM

Sebuah definisi standar mengenai komponen teknologi CRM diberikan oleh META Group di dalam โ€œThe Customer Relationship Management Ecosystemโ€. Kategorisasi ini bertujuan untuk lebih memahami bagaimana suatu strategi CRMdan teknologinya mampu menyediakan seluruh arsitektur secara menyeluruh yang terfokus pada layanan konsumen. Adatiga tipe utama dari teknologi CRM yaitu (Tama, 2009) :

Operational CRM

Dikenal juga sebagai CRM โ€œfront officeโ€. Operational CRM merupakan area dimana terjadi hubungan dengan konsumen secara langsung. Otomasi dari proses bisnis yang terintegrasi yang melibatkan front office customer touch points, seperti penjualan, pemasaran, dan layanan konsumen, termasuk integrasi antara front office dan back office, seperti manajemen pesanan, dan otomasi pemasaran. Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, operational CRM kemudian juga dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu e-CRM dan m-CRM.

Collaborative CRM

Merupakan bentuk perluasan dari CRM tradisional. Collaborative CRM berkaitan dengan manajemen hubungan antara stakeholder eksternal, seperti supplier, distributor, dan reseller. Aplikasi utama dari collaborative CRM adalah enterprise portal yang berbasis pada infrastruktur ekstranet dan perangkat lunak manajemen hubungan mitra (partner relationshiop management software) yang memberikan akses kepada konsumen, reseller, dan mitra bisnis melalui internet.

Analytical CRM

Dikenal sebagai CRM โ€œback officeโ€ atau โ€œstrategicโ€ CRM. Analytical CRM biasanya berhubungan dengan penggunaan data secara efektif, efisien dan strategis sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang tepat bagi pihak manajemen. Pengambilan keputusan dilaksanakan setelah melalui proses analisis, pemodelan, dan evaluasi terhadap data yang tersimpan di basis data untuk menghasilkan sebuah hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan konsumennya. Contoh dari Analytical CRM adalah business intelligence seperti data warehouse, OLAP, dan data mining.

Hal yang terpenting dalam memahami perilaku konsumen tidak hanya memahami siapa mereka (dalam hal ini customer profiling atau segmentation) tetapi juga perilaku mereka dan pola-pola (pattern) yang mereka ikuti. Pemahaman perilaku pelanggan harus ditetapkan sebagai suatu proses yang dinamis dan berkelanjutan (Xu dan Walton, 2005).

๐Ÿ“š

Customer Relationship Management (CRM)

Konsumen

Konsumen merupakan aset yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Tidak akan ada prospek bisnis tanpa adanya hubungan antara perusahaan dengan konsumen yang bersifat loyal. Hal ini adalah alasan mengapa perusahaan harus merencanakan dan menggunakan strategi yang cukup jelas dalam memperlakukan konsumen.

Customer Relationship Management

Customer Relationship Management (CRM) telah berkembang dalam beberapa dekade belakangan ini untuk merefleksikan peranan utama dari konsumen untuk pengaturan strategi perusahaan. CRM meliputi seluruh ukuran untuk memahami konsumen dan proses untuk mengeksploitasi pengetahuan ini untuk merancang dan mengimplementasikannya pada kegiatan marketing, produksi, dan rantai supply dari pemasok (supplier). Berikut ini akan didefenisikan beberapa pengertian CRM yang diambil dari berbagai literatur, antara lain (Tama, 2009) :

  1. Dari sisi yang berkaitan dengan teknologi informasi, CRM adalah sebuah strategi untuk mengoptimalkan customer lifetime value dengan cara mengetahui lebih banyak mengenai informasi konsumen dan berinteraksi dengan konsumen secara intensif (Todman, 2001).
  2. Dari sisi komunikasi dan manajemen, CRM didefinisikan sebagai sebuah pendekatan perusahaan untuk memahami dan mempengaruhi perilaku konsumen melalui komunikasi yang intensif dalam rangka meningkatkan akuisisi konsumen, mempertahankan konsumen, dan loyalitas konsumen (Swift, 2000).
  3. Definisi CRM jika dilihat dari segi bisnis dapat diartikan sebagai sebuah strategi bisnis untuk memahami, mengantisipasi dan mengelola kebutuhan konsumen yang potensial dalam suatu organisasi pada saat sekarang dan yang akan datang (Brown, 2000).

Dari ketiga definisi di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai definisi CRM yaitu sebuah pendekatan yang komprehensif yang mengintegrasikan setiap bisnis proses yang berhubungan langsung dengan konsumen, yaitu penjualan, pemasaran dan layanan konsumen melalui integrasi filosofi, teknologi, dan juga proses (Tama, 2009). Dengan kata lain, CRM dipandang bukanlah sebagai sebuah produk ataupun sebuah layanan, tetapi sebuah filosofi bisnis yang bertujuan memaksimalkan nilai konsumen dalam jangka panjang (customer lifetime value).